RI berpeluang impor minyak Rusia, Pertamina pertimbangkan aspek keekonomian
PT Pertamina (Persero) buka suara soal potensi pembelian minyak Rusia. Hal ini seiring dengan Amerika Serikat (AS) yang mulai melonggarkan sanksi kepada Negeri Beruang Merah.
AS kini memberi izin sementara bagi negara-negara untuk membeli minyak Rusia yang saat ini berada di laut atau dalam kapal. Pelonggaran sanksi merupakan salah satu upaya AS menstabilkan pasar energi global imabs melonjaknya harga minyak buntut konflik Timur Tengah.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan, pihaknya saat ini terus memonitor perkembangan geopolitik internasional yang mempengaruhi minyak dunia. Adapun dalam pertimbangan membeli minyak Rusia, Pertamina akan mempertimbangkan faktor keekonomiannya.
"Dalam pengadaan minyak mentah, Pertamina mempertimbangkan aspek keekonomian, kesesuaian dengan kebutuhan kilang, serta kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku dan arahan pemerintah," tutur Baron kepada Bisnis
Pertamina, kata dia, berupaya memastikan pasokan energi nasional tetap tersedia dan sesuai himbauan Pemerintah untuk masyarakat hemat dalam penggunaan energi baik BBM dan LPG.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan terbukanya peluang Indonesia untuk membeli atau melakukan impor minyak dari Rusia. Hal ini bisa menjadi opsi apabila AS memberikan relaksasi sanksi yang sebelumnya diterapkan untuk negara tersebut.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan keputusan terkait pengalihan sumber impor minyak di tengah dinamika konflik Timur Tengah akan menjadi pertimbangan bisnis Pertamina.
“Itu kan keputusan bisnis itu nanti sama Pertamina. Jadi mana yang lebih membutuhkan sepanjang ada relaksasi ya tentu kita akan memanfaatkan itu prosesnya,” kata Yuliot kepada wartawan di Kantor Kementerian ESDM
Yuliot menjelaskan, pemerintah pada prinsipnya membuka peluang diversifikasi sumber pasokan minyak guna menjaga ketahanan energi nasional. Namun, realisasi impor tetap harus mempertimbangkan aturan serta sanksi internasional yang berlaku.
Menurutnya, jika terdapat kelonggaran kebijakan dari pemerintah AS terhadap negara atau perusahaan yang membeli minyak Rusia, maka peluang tersebut dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha dalam negeri, termasuk Pertamina, untuk memperoleh pasokan dengan harga lebih kompetitif.
Meski demikian, Yuliot menegaskan hingga saat ini belum ada pembahasan maupun kajian lebih lanjut terkait opsi pembelian minyak dari Rusia.


0 Response to "RI berpeluang impor minyak Rusia, Pertamina pertimbangkan aspek keekonomian"
Posting Komentar